RSS

Akankah Pertanian Indonesia mengalami masa keemasannya??

09 Mar

Oleh : Ratama Arifin W

Manajemen dan Kebijakan Publik

Universitas Gadjah Mada

Di dunia Internasional Indonesia dikenal sebagai sebuah Negara kepulauan yang memiliki berbagai kekayaan alam yang melimpah, meliputi kekayaan hutan, kekayaan laut maupun kekayaan migas. Selain itu, Indonesia juga sempat menjadi lumbung padi ASEAN pada era pemerintahan Orde Baru sehingga memunculkan stigma bahwa Indonesia merupakan Negara agraris. Pernyataan tersebut merupakan outcome dari sebuah keadaan yang mana sebagian besar masyarakat Indonesia bermata pencaharian sebagai petani. Di era orde baru sector pertanian menjadi primadona tersendiri dalam perjalanannya. Hal ini didukung dengan pencapaian hasil yang melimpah yang menyebabkan terjadinya swasembada beras. Perkembangan yang cukup signifikan di sector pertanian terlihat di masa orde baru yang menciptakan berbagai inovasi di bidang pertanian untuk terus meningkatkan produktivitas sector pertanian yang sempat menjadi tulung punggung Negara.

Sector pertanian sendiri memiliki peran penting dalam kehidupan bermasyarakat. Bercermin dari keberhasilan yang lalu, sector pertanian dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani. Hal tersebut dapat diraih disebabkan karena masyarakat menganggap bahwa sector pertanian merupakan way of lifes bagi masyarakat sehingga mereka bertani dengan sepenuh hati serta dilengkapi beberapa inovasi yang diberikan pada saat itu kiranya mampu meningkatkan produktifitas hasil pertanian yang luar biasa. Pernyataan tersebut juga didukung dengan pernyataan Ikhwan (2010)[1] yang mengatakan bahwa pertanian juga merupakan jalan hidup, yang ditandai dengan kuatnya budaya masyarakat Indonesia yang agraris. Beberapa peran penting sektor pertanian dalam kehidupan bermasyarakat, diantaranya

  • Merupakan penghasil pangan dan bahan baku industri
  • Sektor pertanian mampu menjadi alat pembangunan daerah dan pedesaan
  • Mampu menjadi salah satu penyangga pendapatan Negara di masa krisis
  • Mampu menjadi penghubung social ekonomi antar masyarakat dan perekat persatuan
  • Merupakan sector yang ramah lingkungan sebagai upaya pelestarian sumberdaya lingkungan
  • Mampu menjadi sector yang mempunyai keterkaitan dengan social budaya dan adat masyarakat
  • Mampu menjadi sector padat karya, memberikan pendapatan kas baik di daerah maupun Negara

Melihat berbagai peran penting sector pertanian tersebut, dapat dipahami bagaimana sector pertanian merupakan sector yang cukup potensial dalam upaya mensejahterakan masyarakat. Sector pertanian mampu menjadi salah satu alternatif pemerintah dalam pemerataan pembangunan nasional yang sedang digalakkan.  Namun, dalam perjalanannya sector pertanian tidak berjalan sebagaiamana yang diharapkan. Pemerintah yang menganggap bahwa sector migas yang merupakan sector yang mampu bersaing di dunia Internasional mengingat tingginya harga minyak dunia beberapa saat yang lalu. Namun yang menjadi permasalahan berikutnya sampai berapa lama kah sector migas mampu bertahan jika terus dieksploitasi secara besar-besaran. Sebagaimana diketahui migas merupakan salah satu sumber daya yang membutuhkan waktu yang lama untuk diperbaharui kembali. Di sini sector pertanian menjadi salah satu alternatif yang cukup potensial dalam menanggapi permasalahan tersebut mdengan melihat beberapa peran penting yang sempat diperankan oleh sector pertanian dalam membantu menambah sumber pendapatan Negara dipenjelasan sebelumnya.

Namun, dalam realita yang ada peran pertanian dalam pembangunan Nasional terus mengalami degradasi. Muncul beberapa factor lain yang menyebabkan terjadinya degradasi peran pertanian dalam pembangunan pertanian[2], diantaranya :

  • Meningkatnya jumlah petani gurem yang mencapai 2,8% per tahun
  • Luas lahan pertanian yang semakin sempit akibat dari pembangunan sector industri yang terlalu cepat
  • Hampir 40 % RTP masih tergolong tidak mampu
  • Kualitas SDM pertanian yang masih rendah
  • Terbatasnya akses sumber daya pertanian yang meliputi; modal, bibit, pupuk, dll.

Tidak adanya keseriusan dari pemerintah dalam hal pengembangan dinilai masih menjadi factor utama dalam membudidayakan sector pertanian. Selain itu, sector pertanian yang dahulunya dianggap sebagai perekonomian rakyat hanya berjalan stagnan dengan metode tradisional tanpa melihat prospek ke depan yang mampu dihasilkan. Banyak dari kalangan petani yang bertani hanya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari tanpa ada keinginan untuk memproduksi lebih banyak guna dijual serta dinilai dapat menyokong pendapatan para petani. Hal tersebut yang kiranya semakin menambah beban hidup para petani dengan minimnya insisatif dari para petani untuk berkembang dan mensejahterakan kehidupan mereka. Di sini sector pertanian membutuhkan sebuah langkah reformatif guna menempatkan kembali posisi pertanian dalam prioritas pembangunan Nasional sekaligus upaya untuk bagaimana meningkatkan kesejahteraan para petani ke depannya dalam menanggapi era globalisasi.

  1. A.      Revitalisasi Pertanian

Beberapa permasalahan yang dipaparkan diatas kiranya dapat memaparkan bagaimana sebenarnya realita di lapangan tentang pertanian Nasional yang sempat menjadi primadona devisa Negara. Menanggapi polemik tersebut pemerintah tidak tinggal diam dengan terus berupaya menciptakan berbagai inovasi dalam sector pertanian. Upaya tersebut juga tertuang dalam berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dalam mengembangkan sector pertanian. Di sini pemerintah berupaya untuk memperbaiki skema pembangunan nasional yang hendak dicapai. Untuk itu dimunculkan triple track strategy pembangunan yang mana diharapkan melalui skema tersebut point-point prioritas yang hendak dicapai dapat dijadikan fokus pembicaraan sehingga mampu menghasilkan kerja yang prima dalam pencapaiannya, misalnya peningkatan pertumbuhan ekonomi melalui percepatan investasi dan ekspor, pembenahan sector riil untuk menyerap angkatan kerja dan menciptakan lapangan kerja, serta revitalisasi pertanian dan pedesaan untuk pengentasan kemiskinan. Pemerintah telah berupaya mencanangkan program Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK). Hal tersebut dilakukan untuk mengembalikan kesadaran baik itu pemerintah ataupun masyarakat luas dalam menempatkan kembali arti penting sector pertanian secara proporsional dan kontekstual. Proporsional dan kontekstual yang dimaksud disini adalah bagaimana sector pertanian diharapkan mampu bersaing dengan sector-sektor lain dengan proporsi sumber daya yang seimbang serta bagaimana mengkontekskan kemajuan teknologi dalam pengembangan inovasi di sector pertanian dinilai mampu meningkatkan produktivitas petani ke depannya.

Namun, yang terjadi di lapangan dalam proses pengimplementasiannya terjadi miss understanding tentang bagaimana revitalisasi pertanian dipahami. Pemahaman tentang revitalisasi pertanian yang tepat merupakan sebuah program jangka panjang dari pemerintah hanya dipahami sebagai sebuah program jangka pendek atau sebuah proyek instan dari pemerintah yang diharapkan mampu merubah kehidupan petani dalam waktu singkat. Tetapi pada dasarnya banyak kalangan yang tidak paham tentang pemahaman program tersebut yang kemudian menilai program tersebut mengalami kegagalan. Perlu kiranya dipahami kembali oleh semua kalangan tentang kebijakan revitalisasi pertanian serta target pencapaian yang telah ditetapkan sebelumnya yang diharapkan ke depannya mampu mengangkat taraf hidup petani. Tentu hasil tersebut membutuhkan proses yang tidak sebentar dengan kondisi pertanian yang ada. Banyak hal yang perlu dibenahi guna mampu mendukung terwujudnya revitalisasi pertanian yang baik dan sukses. Dalam proses mewujudkan program revitalisasi pertanian perlu adanya system perencanaan yang baik untuk ke depan mengingat dibutuhkannya target-terget yang harus dicapai secara berkala dengan interval waktu yang bervariatif serta konsistensi perhatian dan dukungan semua pihak.

Kebijakan revitalisasi pertanian dianggap sebagai sebuah langkah tepat untuk mereposisikan sector pertanian dalam agenda pembangunan nasional serta mampu menjadi sebuah batu loncatan untuk kiranya membuat sebuah langkah konstruktif di sector pertanian. Di sini program revitalisasi pertanian mempunyai agenda pokok untuk membalik tren penurunan dan mengakselerasi peningkatan produksi dan nilai tambah usaha tani. Agenda tersebut dapat dilaksanakan dengan baik dengan cara peningkatan dan perluasan kapasitas produksi melalui renovasi, penumbuh kembangan dan restrukturisasi agribisnis, kelembagaan maupun infrastruktur penunjang lainnya. Proses peningkatan dan perluasan kapasitas produksi dapat diwujudkan melalui investasi bisnis maupun investasi infrastruktur untuk kiranya mampu menjadi modal dalam pengembangan sector pertanian nasional.

Menanggapi program revitalisasi pertanian, departemen pertanian juga menuangkan beberapa program yang bersifat konsep serta petunjuk teknis dalam mengimplementasikan program revitalisasi pertanian tersebut. Namun, disini muncul beberapa persepsi masyarakat apakah program tersebut mampu dilaksanakan jika melihat geliat kemajuan sector industry serta stigma yang menganggap tidak adanya potensi yang dapat dioptimalkan dari sector pertanian ke depannya. Hal tersebut diperparah dengan kondisi di lapangan yang mana dapat dilihat bersama kondisi lahan pertanian yang semakin minim akibat dari kapitalisasi sektor industry di dalam Negeri. Tentu hal ini menjadi sebuah keseriusan dari pemerintah untuk bagaimana mengemas beberapa program yang hendak diimplementasikan guna sesuai dengan sasaran yang akan dicapai. Beberapa program tersebut diantaranya[3]:

  • Program peningkatan ketahanan pangan

Sasaran yang ingin dicapai:

  1. Tersedianya pangan nasional, regional dan rumah tangga yang cukup, aman, dan halal,
  2. Meningkatnya keragaman produksi dan konsumsi pangan masyarakat, dan
  3. Meningkatnya kemampuan masyarakat dalam mengatasi masalah kerawanan pangan 28.
  • Program pengembangan agribisnis

Sasaran yang ingin dicapai:

  1. Peningkatan nilai tambah melalui pengolahan dan perbaikan kualitas, dan
  2. Mendorong kegiatan usaha tani secara terpadu mencakup beberapa komoditas (system integrasi tanaman-ternak atau system integrasi tanaman-ternak-ikan).
  • Program peningkatan kesejahteraan petani

Sasaran yang ingin dicapai:

  1. Meningkatnya kapasitas dan posisi tawar petani,
  2. Semakin kokohnya kelembagaan petani,
  3. Meningkatnya akses petani terhadap sumber daya produktif, dan
  4. Meningkatnya pendapatan petani.

Pencapaian sasaran yang telah ditetapkan bukan hanya masalah gampang yang dapat dengan segera diselesaikan. Namun, dibutuhkan bentuk tindakan lain yang kiranya mampu mendorong tercapainya sasaran tersebut. Seperti misalnya melalui proteksi dan promosi komoditas, penyempurnaan peraturan mulai dari penciptaan, pelepasan, pemanfaatan dan pengawasan varietas benih yang lebih kondusif, mendorong peran swasta untuk ikut bersinergi bersama pemerintah melakukan pembangunan pertanian yang sustainable, serta yang paling penting adalah bagaimana memperkuat posisi tawar petani agar tidak selalu dirugikan dalam perjalanannya.

  1. B.       Hambatan Revitalisasi Pertanian di Indonesia

Dalam pengimplementasian program revitalisasi pertanian dinilai belum mampu berjalan dengan baik dan sesuai harapan. Masih ada beberapa hambatan yang perlu kiranya untuk dipikirkan bersama solusi yang dapat dilakukan guna mempercepat jalannya program revitalisasi pertanian tersebut. Beberapa hambatan implementasi revitalisasi pertanian tersebut[4], diantaranya

  • Minimnya kontribusi organisasi ekonomi petani yang kokoh sebagai salah satu ciri pertanian modern.

Di sini petani belum mampu mandiri dalam mengelola pertaniannya. Mereka cenderung berusaha sendiri serta sangat tergantung pada bantuan pemerintah dan pelaku usaha lainnya. Dengan begitu tentu  odelpertanian individual seperti itu belum mampu mengakomodir beberapa hal yang dibutuhkan dalam program revitalisasi pertanian. Selain itu, permasalahan tersebut akan cenderung membuat petani menjadi petani tradisional tanpa mampu berinovasi langsung guna memperluas usaha pertaniannya dari pertanian tradisional yang hanya konsumsi pribadi ke pertanian modern yang mampu menambah nilai jual pada hasil pertaniannya.

Bebeda halnya dengan petani yang berada di Negara-negara maju. Mereka memperoleh dukungan dari domestic (domestic support) yang memadahi. Para petani mampu mendapatkan berbagai income inovasi taupun dalam hal permodalan ringan untuk upaya pengembangan pertanian yang ada. Hal ini sungguh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia yang mana menerima dukungan domestic yang sangat minim. Bagaimana berbagai inovasi yang diharapkan mampu diimplementasikan di pertanian nasional dirasa masih sangat minim. Selain itu, paradigma yang masih banyak berkembang adalah petani bertani hanya untuk mencukupi kebutuhannya sendiri tanpa memkirkan keberlanjutan yang dapat dihasiilkan juga menjadi permaslahan tersendiri. Di lain pihak dapat diketahui bersama bagaimana minimnya permodalan yang disediakan untuk pengembangan usaha pertanian. Hal tersebut yang kiranya menjadi penyebab tidak adanya pengembangan usaha di bidang pertanian.

Dalam permasalahan yang lain petani selalu dirugikan dengan beberpa keadaan yang tidak mendukung kondisi petani. Petani harus selalu menerima beban ketidakefisienan sector lainnya. Hal ini seperti yang terjadi dalam distribusi bibit, pupuk, serta kebutuhan petani lainnya yang mana terjadi kelangkaan di pasaran. Selain itu, kenaikan beberapa input tersebut juga selalu dirasakan oleh para petani tanpa mampu berinovasi untuk menaikkan harga komoditas pangan. Sistem harga komoditas pangan telah diatur oleh pemerintah yang mana belum mampu mengakomodir kepentingan para petani dan selalu merugikan petani. Mereka yang bersusah payah bertani tidak mampu mendapatkan hasil sesuai dengan usaha mereka, yang terjadi petani tidak mampu hidup sejahtera serta sulit mengajak generasi muda untuk meneruskan usaha ornag tuanya yang petani maupun yang mau berinovasi dalam bidang pertanian.

  • Bunga bank yang relatif mahal

Melalui peminjaman modal dari bank diharapkan mampu menjadi petani kita menjadi petani mandiri yang professional dan inovatif. Namun dalam kenyataannya para petani relative sulit untu mengakses system bantuan permodalan yang ada di bank. Sehingga yang ada agar terus mampu memenuhi kebutuhan hidupnya para petani hanya mampu bergantung kepada pemilik modal swasta yang menyediakan system bagi hasil yang kurang menguntungkan bagi petani. Secara tidak langsung kenyataan ini akan semakin menambah prosentase petani gurem yang ada di Indonesia.

  • Minimnya perhatian langsung pemerintah daerah dalam sistem pembangunan daerah

Di era otonomi daerah, pemerintah daerah terus berupaya melakuakn pembangunan daerah yang mana dilaksanakan di berbagai sector strategis. Hal tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan daerah serta mampu mengelola berbagai potensi yang dimiliki oleh suatu daerah. Namun, pembangunan darah yang terjadi cenderung tidak sesuai dengan kebelanjutan pembangunan di bidang pertanian. Banyak sekali lahan pertanian yang telah dialih fungsikan menjadi lahan industri maupun pengembangan lain yang kiranya mampu meningkatkan hasil pendapatan daerah.

Dalam system harga sendiri dinilai petani belum mampu untuk sepenuhnya bias menikmati harga yang baik Karena tingginya fluktuasi harga antar musim panen dan paceklik. Dimana masih minimnya pemahaman petani untuk melakukan jadmal tanam yang baik guna menekan angka kerugian yang dirasakan petani sendiri. Selain itu, belum terbentuknya suatu system perencanaan pembangunan pertanian yang memadahi serta berjenjang dengan baik, yang dimulai dari tingkat desa sampai tingkat pusat. Melalui system yang berkelanjutan tersebut diharapkan petani mampu menadaatkan dukungan domestic yang melimpah, seperti halnya permodalan baik itu modal dana, bibit, pupuk, dsb. Selain itu, dari system yang berkelanjutan tersebut mampu kiranya pemerintah terus mengevaluasi pembangunan pertanian yang ada dengan terus menghadirkan kemudahan baik itu di bidang inovasi teknologi, link market yang luas, serta pemberian modal lunak bagi para petani sehingga mampu meningkatkan produktivitas petani.

Menanggapi berbagai masalah diatas pemerintah tidak hanya tinggal diam dan terus berusaha menciptakan berbagai kebijakan yang kiranya pro petani untuk mampu meningkatkan taraf hidup petani dengan meningkatkan hasil produktivitasnya melalui berbagai kebijakan inovasi yang ditawarkan pemerintah. Untuk itu pemerintah membuat beberapa prioritas pembangunan pertanian yang kiranya mampu mengatasi beberapa masalah di atas[5], diantaranya

  • Pembentukan dan pengaktifan kelompok tani dan gabungan kelompok tani (Gapoktan),

Hal tersebut terus diupayakan mengingat kelompok tani yang ada kurang mampu mengakomodir seluruh anggotanya untuk berinovasi dalam sector pertanian. Selain itu, minimnya tenaga penyuluh pertanian yang disiapkan menjadi permasalahan lain yang cukup menjadi perhatian serius. Selain itu, pembentukan Gapoktan diharapkan bagi kelompok petani yang telah sukses melalui beberapa inovasi yang digunakan mampu tertular pada kelompok tani lain yang belum sukses sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

  • Pengembangan benih bersubsidi kepada petani miskin,

Hal tersebut merupakan salah satu solusi bagi para petani yang kesulitan mendapatkan bibit murah akibat dari minimnya modal yang mereka punya. Selain itu, penyediaan bibit bersubsidi tersebut diharapkan perkembangan aktivitas petani mampu dikontrol lebih intens guna melihat perkembangan petani sendiri sehingga mampu dimunculkan beberapa inovasi baru di bidang pembibitan yang terus dikembangkan guna hasil yang terbaik.

  • Penjaminan kredit lunak pertanian,

Dalam realita yang ada kredit lunak yang diharapkan oleh para petani untuk mengembangkan pertaniannya sangat sulit untuk diakses. Hal berbeda halnya jika kredit lunak tersebut hendak diakses oleh individu atau kelompok yang bergerak di bidang industry. Persepsi masyarakat yang menganggap sector pertanian telah mati dan tidak mungkin mampu berkembang dengan kondisi selaita yang ada dinilai menjadi factor penting minimnya akses kredit lunak bagi para petani. Di sini dibutuhkan intervensi dari pemerintah untuk meyakinkan beberapa pihak terkait terkait potensi pengembangan sector pertanian ke depannya.

  • Subsidi bunga modal investasi,

Investasu modal yang masuk ke kas Negara diharapkan sebagian dapat dialokasikan untuk pengembangan sector pertanian. Sekarang ini masih sangat minim alokasi dari pemerintah terkait dengan bunga investasi yang masuk ke dalam negeri. Subsidi bunga modal investasi yang dialokasikan dalam program PNPM MANDIRI dinilai belum sesuai harapan mengingat luas wilayah Indonesia serta kebutuhan sector lain yang juga membutuhkannya. Di sini pemerintah perlu mengkaji ulang proporsisi yang tepat terkait subsidi bunga modal investasi yang dikemas melalui program PNPM MANDIRI agar mampu mengkoordinir seluruh kalangan terutama yang sangat membutuhkan.

  • Stabilisasi harga komoditas primer melalui DPM-LUEP,

Selama ini dalam realita yang ada fluktuasi harga yang terjadi dinilai sangat merugikan para petani. Perubahan harga yang sangat signifikan tidak mampu diantisipasi oleh para petani dengan segala sumber daya yang ada sekarang. Melalui program DPM-LUEP diharapkan mampu kiranya menstabilkan harga komoditas di pasaran sehingga tidak terlalu merugikan para petani.

  • Penyediaan dan perbaikan infrastruktur pertanian yang ada.

Semakin minimnya lahan akibat perkembangan industry yang pesat, minimnya inovasi yang diaplikasikan dalam sector pertanian, minimnya permodalan bagi para petani, serta link pemasaran yang masih minim memberikan beban tersendiri bagi para petani dalam mengembangkan usahanya. Di sini petani membutuhkan bantuan dari pemerintah baik itu berupa permodalan, penyediaan lahan yang semakin berkurang, info link pemasaran hasil pertanian, dsb yang kiranya dapat mendongkrak pendapatan petani sehingga mampu sekaligus menjadi upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani ke depannya.

  1. C.      Kesimpulan

Tidak dapat dipungkiri bagaimana sejarah Indonesia yang mengatakan bahwa Indonesia merupakan sebuah Negara agraris yang cukup punya nama dulunya terbukti dengan adanya sebuah situasi dimana terjadi swasembada beras Nasional. Hal tersebut didukung dengan masih banyaknya lahan-lahan pertanian serta beberapa inovasi yang diimplementasikan dalam pengembangan usaha tani. Namun dalam perjalanannya pertanian di Indonesia mengalami degradasi posisi yang mana semakin digeser oleh posisi sector industry dan migas yang diawali dengan masuknya revolusi industry di dalam negeri. Kenyataan tersebut semakin menempatkan petani pada garis kemiskinan dengan segala keterbatasan yang ada. Dibutuhkan intervensi dari pemerintah untuk bagaimana menempatkan kembali sector petanian dalam prioritas pembangunan Nasional mengingat potensi yang cukup signifikan jika dapat dimaksimalkan pengembangannya. Intervensi pemerintah tersebut dapat diwujudkan melalui penyediaan kredit lunak, penyediaan inovasi pertanian, penyediaan bibit dan kebutuhan peralatan lain serta link pemasaran yang mampu menambah nilai jual bagi petani yang kiranya mampu mendukung produktivitas sector pertanian sekaligus mendongkrak kesejahteraan petani. Namun, upaya pengembangan tersebut tidak terbatas pada peran pemerintah dan para petani saja, namun juga melibatkan instansi-instansi terkait baik itu sector swasta, LSM, maupun civitas akademika terkait dengan keahliannya masing-masing untuk berpartisipasi dalam mengembalikan kejayaan sector pertanian ke depannya seperti yang pernah terjadi guna menjadi modal pemerintah dalam menatap persaingan global yang semakin kompetitif sekaligus dapat menekan angka kemiskinan yang sebagian besar dihuni oleh para petani.

DAFTAR PUSTAKA

Haryadi, F. Trisakti. 2010. Pelaksanaan Program Revitalisasi Pertanian: Keberhasilan dan Hambatan.ppt. Yogyakarta.

Ikhwan, Muhammad. 2010. Usir WTO dari Pertanian; Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO. Jakarta: Serikat Petani Indonesia.


[1] Ikhwan, Muhammad. 2010. Usir WTO dari Pertanian; Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO. Jakarta: Serikat Petani Indonesia. Hal: 2.

[2] Haryadi, F. Trisakti. 2010. Pelaksanaan Program Revitalisasi Pertanian: Keberhasilan dan Hambatan.ppt. Yogyakarta.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Ibid.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Maret 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: