RSS

Managing Fast Growing Cities

09 Mar

Oleh : Ratama Arifin W

Manajemen dan Kebijakan Publik

Universitas Gadjah Mada

Kota sebagai tempat yang mempunyai posisi strategis memiliki fungsi yang sangat kompleks bagi kehidupan masyarakat. Kota mempunyai fungsi pendukung bagi kegiatan-kegiatan masyarakat yang mengakibatkan pertumbuhan kota selalu mengalami pertumbuhan yang sangat cepat. Akan tetapi pertumbuhan kota juga menimbulkan dampak terhadap keadaan populasi di dalamnya. Beberapa kota yang terdapat di negara berkembang populasi penduduknya meningkat hingga seperempat juta orang setiap tahunnya. Peningkatan populasi penduduk kota yang mempunyai intensitas yang sangat besar menjadi sebuah tantangan bagi planners dan managers kota itu sendiri. Peningkatan polpulasi mengakibatkan munculnya tuntutan terhadap fungsi kota yang mampu memberikan fasilitas pendukung bagi masyarakat disediakan dengan baik berdasarkan kebutuhan masyarakat. Kebutuhan-kebutuhan tersebut seperti halnya tersedianya sanitasi, perumahan, pendidikan, dan lain-lain. Adanya tuntutan manajemen kota serta penyediaan pelayanan menjadikan manager kota harus mampu memanajemen kota secara baik.

Berdasarkan artikel yang dijelaskan oleh Devas dan Rakodi sekitar 43% populasi di dunia tinggal di area kota. Dalam negara berkembang sekitar 73% sedangkan dalam negara yang kurang berkembang proporsi populasi yang tinggal di kota sebesar 34%. Pada tahun 1950 penduduk China mengalami pertumbuhan yang sangat besar hingga 8% per tahun sehingga pemerintah China sendiri memberikan kebijakan untuk membatasi pertumbuhan kota pada tahun 1970-1980 –an hingga dapat menekan pertumbuhan menjadi 1,4% pada 1980an. Sebuah pertumbuhan yang sangat kecil dalam negara yang berkembang pada waktu itu. Urbanisasi pun relative masih pada level kecil dengan hanya 21% penduduk yang tinggal di daerah perkotaan pada tahun 1985. Akan tetapi, China masih menjadi peringkat pertama dari lima negara yang mempunyai populasi tertinggi di dunia.

Kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara merupakan kawasan yang mempunyai pertumbuhan populasi sebesar 4% pada tahun 1970-1985. Dengan 26% populasi tinggal di wilayah perkotaan seperti negara India dimana lebih dari setengah populasi berada di daerah perkotaan. Selanjutnya di Amerika Latin sebanyak 24% populasi berada di wilayah perkotaan. Sedangkan, kawasan Afrika yang mempunyai pertumbuhan populasi kota sebesar 5% per tahun dengan hanya 31% penduduk yang tinggal di kota. Bagaimana pun, diprediksi penduduk perkotaan di Afrika akan meningkat tiga kali lipat sebelum tahun 2010.

Berdasarkan data-data tersebut telah menunjukkan bahwa pertumbuhan polpulasi kota merupakan sebuah tantangan bagi perencana dan manajer kota. Jumlah penduduk yang sangat cepat pertumbuhannya memberikan permasalahan-permasalahan baru dalam mewujudkan manajemen perkotaan yang baik. Implikasi dari adanya pertumbuhan kota adalah adanya penyediaan infrastruktur dan pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat. Pada negara berkembang permasalhan yang menjadi kajian dalam manajemen kota adalh penyediaan air bersih, system satitasi, penyediaan perumahan dan transportasi. UN Centre for Human Settlements dalam Global Report on Human 1986 menjelaskan bahwa sekitar 30% penduduk kota di negara berkembang tidak mempunyai kertersediaan air bersih. Sebagai contoh adalah Afrika, sebesar 40% masyarakat kota yang dapat mendapatkan fasilitas air bersih (UNCHS 1987). Selain itu, di negara berkembang 40% tidak mempunyai akses sanitasi. Dimana 50% terdapat pada kawasan Asia. Sebagai contoh adalah Benin dan Bangladesh yang hanya seperempat penduduk kota yang mempunyai akses untuk mendapatkan air bersih.

Data lain yang menunjukkan permasalahan pada kota-kota di negara berkembang adalah 40-50% penduduk tinggal di kawasan kumuh dan permukiman ilegal. Selain itu, pada sebagian besar kota-kota di negara berkembang, hanya seperempat sampai setengah sampah dikelola oleh pemerintah kota (UNCHS 1987:82). Terdapat banyak sampah mencemari tanah dan air. Konsekuensi dari permasalahan tersebut adalah kondisi kesehatan masyarakat menurun akibat adanya lingkungan yang kotor. Kemudian permsalahan transportasi juga tidak dapat dihindarkan akibat adanya pertumbuhan penduduk kota. Rusaknya sistem transportasi umum diakibat adanya kepadatan penduduk serta kurangnya investasi untuk mewujudkan pelayanan transportasi yang baik.

Permasalahan pelayanan sosial juga merupakan implikasi adanya pertumbuhan penduduk kota. Pelayanan-pelayanan sosial yang ada di kota-kota pada negara berkembang seperti fasilitas kesehatan dan pendidikan masih jauh dari harapan. Fasilitas kesehatan sangat baik tersedia bagi masyarakat golongan menengah ke atas atau golongan masyarakat yang mempunyai pendapatan yang cukup tinggi. Sedangkan masyarakat yang termasuk dalam golongan menengah ke bawah atau masyarakat miskin mendapatkan pelayanan yang sangat buruk. Sebagai contoh adalah Karachi, adanya fasilitas kesehatan yang buruk telah berdampak negatif terhadap angka kematian bayi. Pada masyarakat miskin, antara 95-152 bayi per 1000 kelahiran meninggal sebelum berumur 12 bulan (Harpham at al. 1988; Cairncross et al. 1990).

Tentunya, untuk mewujudkan penyediaan sarana infrastruktur bagi masyarakat dibutuhkan anggaran sebagai unsure utama berjalannya program penyediaan akses pelayanan. Pada tahun 1992, menurut Prakash untuk dapat mendapatkan pelayanan per kapita membutuhkan $1,400-2,000 untuk dapat menikmati pelayanan. Sebagai wujud pemberian fasilitas pelayanan publik pemerintah mengeluarkan anggaan sebesar $80-120 Miliar per tahun. Akan tetapi hitungan tersebut hanya berdasarkan pada pertambahan penduduk, tanpa memperhatikan kondisi penduduk kota yang ada. Pada negara Indonesia, antara tahun 1985-2000 pemerintah menginvestasikan $1,4 Miliar untuk memenuhi target dalam memberkan pelayanan dasar.

Kemiskinan Kota

Pertumbuhan kota tidak terlepas oleh adanya permaslahan kemiskinan. Sebagian besar masyarakat miskin ditemukan di daerah pinggiran kota, hal tersebut juga berimplikasi bahwa proporsi pertumbuhan masyarakat miskin di dunia kini terdapat di kota. World Bank, sekitar 330 juta atau 28% pendudukkota berada pada garis kemiskinan. Adanya permaslahan kemiskinan menjadikan perencana dan manajer kota harus mampu memanajemen kota secara baik erta dituntut harus mampu memberikan solusi terhadap permasalahan kemiskinan.

Sebagai studi kasus permasalahan perkotaan adalah Kota Jakarta. Dapat diketahui bahwa permasalahan di koa Jakarta sangat kompleks. Kota Jakarta ebgai pusat pemerintahan mempunyai pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. Seperti halnya kota-kota di negara berkembang lainnya, Jakarta mempunyai berbagai permasalahan dalam kota. Pada tahun 1989 hanay 14% penduduk yang memperoleh pelayanan pipa air. Selain itu, permasalahan seperti sampah, perumahan, ketersediaan air bersih juga merupakan permasalahan yang harus diberikan solusi pemecahan oleh pemerintah kota. Kota Jakarta dianggap mampu memberikan lapangan kerja bagi banyak orang, akan tetapi menjadikan kota Jakarta sebagai salah satu kota yang mempunyai kesenjangan yang dapat dilihat secara langsung. Potret kemiskinan di pinggiran kota menjadikan kota Jakarta sebagai kota yang tidak terlepas dari masahan lingkungan kumuh.

Mengapa pertumbuhan kota terus berlanjut?

Fungsi kota yang sangat strategis berimplikasi terhadap sebgaian besar kegiatan-kegiatan masyarakat terpusat di kota. Hal tersebut mengakibatkan angka migrasi di kota cukup memberikan kontribusi terhadap pertumbuan penduduk kota di negara berkembang. Factor utama penyebab adanya migrasi adalah faktor ekonomi. Adanya anggapan bahwa kota merupakan sumber mata pencaharian dan pendapatan yang lebih tinggi menjadikan kota sebagai bright light sehingga pertumbuhan penduduk kota dari tahun ke tahun sangat tinggi.

Adanya faktor-faktor pendorong migrasi juga dilatar belakangi oleh berbagai permasalahan. Migrasi mayarakat ke kota, menunjukkan bahwa terpusatnya perputaran uang yang ada dikota merupakan dampak dari tidak meratanya pembangunan yang dilakukan. Hal tersebut terjadi karena adanya kekuasaan kolonial yang menumbuhkan kapitalisme. Pada akhirnya kota sangat menguntungkan bagi system kapitalisme. Kegiatan-kegiatan seperti perdagangan serta industri yang terpusat di kota mengakibatkan pertumbuhan kota sangat cepat. Akan tetapi, pertumbuhan kota dapat dipandang sebagai sesuau hal yang baik maupun buruk. Berkembangnya industri di kota akan sangat mendukung masyarakat untuk berkembang. Disamping sektor informal, adanya pertmbuhan kota akan mengembangkan sektor informal. Namun, konsekuensi adanya pertumbuhan kota adalah berkurangnya sumber daya pada sektor pertanian. Pertumbuhan kota juga menjadikan lahan pertanian menjadi berkurang. Oleh karena itu, agar tidak menimbulkan dampak negatif pertumbuhan kota haruslah dapat dikontrol.

Sebagai upaya mengontrol pertumbuhan kota pemerintah dapat mengeluarkan berbagai kebijakan.salah satu kisah sukses control pertumbuhan penduduk kota adalah negara China. Pertama adalah control terhadap jumlah keluarga, peraturan nasional hanya memperbolehkan satu anak dalam sebuah keluarga yang ditegaskan khususnya di wilayah kota. Kedua, tekanan pembangunan terhadap pedesaan seperti investasi pada sektor pertanian menempatkan lokasi kerja diluar kota-kota besar, merencanakan ketentuan pelayanan publik seperti pendidikan dan kesehatan. Ketiga, dan yang paling penting yaitu otoritas pemerintah yang dpat memaksakan kehendaknya. Apabila seseorang melanggar maka akan kehilangan sumber pendapatan dan akses pelayanan seperti pendidikan dan kesehatan.

Langkah lain yang dapat dilakukan sebagai upaya pengendalian pertumbuhan penduduk kota adalah meningkatkan standart kehidupan penduduk di pedesaan. Hal yang dapat dilakukan adlah investasi terhadap sektor pertanian, meningkatkan harga hasil pertanian, pengembangan tanah di pedesaan, meningkatkan akses pendidikan dan kesehatan di pedesaan, meningkatkan infrastruktur dan transportasi yang ada di pedesaan. Sebgai upaya meningkatkan sumber daya penduduk di pedesaan dapat dilakukan dengan menungkatkan kualitas kehidupan masyarakat pedesaan, mengembangkan komunikasi dan pendidikan masyarakat pedesaan, serta meningkatkan pendapatan masyarakat.

Menurut laporan UN’s World population Trends and Policies (1988: Tables 82 and 83) kebijakan yang mampu mempengaruhi pertumbuhan masyarakat kota antara lain control pada lokasi industry, pinjaman serta pajak intensif bagi investasi di wilayah pedesaan, subsidi kerja, pembangunan pusat serta promosi pemukiman kecil, skema tanah yang berkoloni dan sebagainya. Banyak pemerintah yang melakukan berbagai kebijakan sebagai upaya pembangunan perkotaan. Akan tetapi, seberapa jauh upaya tersebut dilakukan pada akhirnya berujung tidak jelas. Kemungkinan hal tersebut terjadi adalah tidak adanya evaluasi terhadap kebijakan yang diambil (Tolley and Thomas 1987:9).

Intervensi Pemerintah

Melihat permasalahan yang telah dijelaskan di atas menjadikan anggapan bahwa perlukah intervensi pemerintah dalam pembangunan perkotaan diperlukan? Alasan yang berpendapat bahwa intervensi pemerintah diperlukan dalan pembangunan adalah pertama, pasar yang tidak kompetitif sehingga memunculkan monopoli dalam pasar. Kedua, adanya eksternalitas yaitu kepentingan dari masing-masing individu berbeda-beda. Kekuatan pasar tidak mampu mengatasi permasalahan seperti pembungan limbah, polusi udara dari adanya industri, kemacetan lalu lintas dan lain-lain. Oleh karena itu, intervensi pemerintah diperlukan dalam pembangunan perkotaan sebagai control terhadap sektor swasta dan penyedian pelayanan tertentu. Ketiga, berhubungan dengan tidak meratanya kekayaan dan pendapatan. Pemerintah diperlukan sebgai pihak yang mengelola agar sistem kapitalis tidak berjalan sehingga dapat mewujudkan pemerataan.

Namun, intervensi pemerintah terhadap pembangunan perkotaan tidak semerta-merta dilakukan dengan secara keseluruhan. Terdapat lingkup-lingkup tertentu dimana intervensi pemerintah diperlukan dalam sistem pembangunan perkotaan. Pertama, memberikan perlindungan kepada masyarakat. Dalam hal ini adalah pembenahan terhadap ketertiban umum dan pertauran hukum, perlindungan terhadap kehidupan masyarakat, hak asasi manusia, serta hak kekayaan. Kedua, mengatur kegiatan sektor swata untuk kepentingan umum seperti pajak harga dasar terhadap barang atau jasa, perlindungan konsumen dan lain-lain. Ketiga, penyediaan pelayanan umum seperti transportasi publik, pembuangan limbah, pendidikan, pelayanan kesehatan, serta fasilitas rekreasi.

Keempat, lebih pada fungsi pengembang. Pemerintah mempunyai fungsi mengkoordinasi sektor publik dan swasta seperti mempromosikan pembangunan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja yang dilakukan oleh sektor swasta. Kelima, mewujudkan pemerataan. Hal ini adalah fungsi umum pemerintahan untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat yang dapat dilakukan dengan kebijakan perpajakan serta subsidi. Hal tersebut bertujuan untuk melindungi masyarakat miskin dari sistem pasar. Pada konteks negara sosialis campur tangan pemerintah dilakukan secara langsung. Kontrol terhadap pembangunan perkotaan dilakukan langsung di bawah pemerintah atau pada tingkat daerah.

Sebagai wujud kepedulian pemerintah terhadap pembangunan perkotaan, intervensi pemerintah diperlukan sebagai upaya memanajemen kota dengan baik. Akan tetapi yang diperlukan adalah keadaan ekonomi dan kondisi politik yang selalu berubah. Perubahan-perubahan lingkungan diharapkan mampu disesuaikan oleh pemerintah sebagai pihak pemegang kekuasaan dan aktor pembuatan kebijakan. Isu-isu penting dalam pembangunan perkotaan seperti persediaan air bersih, jalan, perumahan, tata ruang kota dan sebagainya membutuhkan suatu solusi pemecahan dalam mewujudkan sebuah kota yang mampu memberikan manfaat positif bagi masyarakatnya. Pertumbuhan kota diharapkan dapat mengembangkan berbagai sektor seperti industri demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta mewujudkan pelayanan yang baik sebagai upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Maret 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: